#Listening Skill by Handry Satriago (CEO General Electric)

Percaya atau tidak Listening adalah one of the most dificult thing dalam memimpin dan sering menjadi kesalahan fatal bagi leaders. Kenapa listening jadi susah ? karena ini sering terlupakan. Padahal apa jadinya leaders tanpa mendengarkan followernya. Atau leaders sedemikian sibuknya. Hingga tak punya waktu untuk listening, ah leaders never been busy to listen. Seringkali juga muncul arogansi yang muncul secara sengaja atau tidak yang membaut leaders merasa sudah tahu semua dan tak mau listening. “penyakit” tak mau listening ini seperti flu bisa hinggap pada siapa saja Bahkan pada leaders yang sudah kawakan atau hebat sekalipun. Obatnya cuma satu yaitu punya mindset bahwa tak pernah ada kata berhenti untuk belajar. If you have passion to learn, maka lsitening tidak akan terlalu susah. Selalu ada “alarm” ketika penyakit “tak mau listen” datang. Filosofinya if you are hungry for learning, then you will seek knowledge dari mana saja. Then you willing to listening others input. Susahnya tidak seua input atau feedback dari anybody sesuai dengan yang kita inginkan or we don’t have all time in the world untuk listening. Itulah yang membedakan good leaders dengan yang bukan. Leaders mau listening for bad news, critics, feedback and different opnion. Itu juga yang membedakan leaders dan doers. Doers hanya listening for others, guidance. Leader listening to input ideas. Tentu tek semua input yang di listening harus disetujui. Tapi followers perlu punya rasa bahwa mereka boleh berpendapat walau beda. Perlu juga diajarkan kepada followers bagaimana mengajukan pendapatnya secara to the point agar listening bisa jalan dengan baik. Kadang kalimat “what your point” itu memang harus digunakan ketika listening sangat dibatasi oleh waktu. Pastinya kuping bisa merah kalau pas lagi listening kritik dan different opnions. Tapi bukankah beajar naik sepeda juga alami jatuh? Tantangan terberat kala listening adalah ketika pendapat yang ngasal dan tak berdasar logika atau fakta. Untuk pendapat ngasal gitu, bisa jadi kita yang belum ngerti pendapatnya. Ada baiknya di paraphrasing. Ditanya ulang maksudnya apa. Listening skill dalan leadership itu memerlukan sekali kemampuan paraphrasing dan tidak cepat emosi or keinginan membantai. Memberikan feedback terhadap pendapat berbeda, mengajak diskusi itu bagus. Tapi kalau sudah mentok perlu sudah dengan “OK” listen to you. Listening needs respect to others. Respect bahwa cara berpikir orang tidak semua sama, dan orang memiliki proses pembelajaran yang berbeda-beda. Saya percaya listening lebih banyak manfaatnya dan mudharatnya. Walau tak semua didengar enak. Kalau mau enak blues aja  dalam konteks leaders develop leaders perlu disediakan waktu untuk listening dengan ide-ide gila yang tak biasa yang anti mainstream. Ada kalanya saya mengambil waktu untuk memikirkan ulang terhadap pendapat yang berbeda setelah listening. Ini proses pembelajaran. Lagi-lagi kalo jadi leaders yang hanya mau dengar pendapat yang memuji dan baik-baik saja. Mending punya folowers robot bisa diatur harus ngomong apa. Dan tak ada yang lebih mengerikan bagi seorang leaders kalau punya followers yang semuanya robot. Listening adalah learning. Cause leader always learning maka listening tak perlu ditakuti karena bakal ada pendapat yang tak sama. Yang tak enak..yang habisin waktu.

by Handry Satriago