Ciri Organisasi/Perusahaan berkinerja buruk menurut Dahlan Iskan

Menarik ketika saya membaca tulisan-tulisan Dahlan Iskan (DI) di web resmi PLN, maupun di JPNN. dari situ saya bisa membayangkan bahwa ini adalah salah satu cara Dahlan Iskan berkomunikasi sekaligus memberikan motivasi kepada karyawan PLN dan BUMN lainnya di seluruh Indonesia. cara ini cukup praktis, ditulis secara sederhana dengan gaya bahasa wartawan tentunya pembaca akan dibuat seolah-olah berada dalam kondisi sebenarnya. topik yang dibahas oleh Dahlan Iskan bermacam-macam ada yang tentang listrik, manajemen kepemimpinan sampai catatan harian beliau pada saat berkunjung ke luar negeri. tulisan-tulisan beliau tentunya tidak sama sekali menggambarkan tentang hal-hal teknis listrik atau kepemimpinan tapi beliau mencoba memotivasi “anak buahnya” untuk bisa bekerja lebih baik. nah dalam postingan kali ini, saya mencoba menyimpulkan beberapa ciri organisasi yang berkinerja buruk berdasarkan tulisan-tulisan yang pernah dipublish oleh Dahlan Iskan.

Ciri Organisasi/Perusahaan berkinerja buruk

* Proses Rekruitmen tidak objektif

tidak perlu dipungkiri, proses rekturitmen pegawai/karyawan di beberapa perusahaan/organisasi pemerintah masih dilakukan dengan cara-cara kotor seperti menggunakan koneksi “orang dalam” yang memiliki ikatan saudara  atau sogok-sogokan. Pak DI pernah terjun langsung dalam proses rektruitmen karyawan PLN.

* Menganggap Karyawan adalah pembantu (baca : babu)

Dalam salah satu tulisannya, DI pernah menjelaskan bahwa Karyawan itu jangan didikte dalam bekerja, jika didikte maka karyawan akan menjadi tidak bebas, dan ide yang dimiliki oleh karyawan tidak  bisa diimplementasikan. hal ini bisa membuat karyawan menjadi tidak berkembang dan bisa membuat karyawan menjadi “pemberontak”. dalam setiap disposisi yang diberikan kepada bawahannya, DI juga tidak menambahkan embel-embel atau komentar tambahan, DI mempersilahkan bawahannya untuk berinovasi terkait dengan disposisi tersebut.

*Pimpinan adalah BOS

Ada yang menarik ketika DI baru selesai dilantik oleh Presiden untuk menjadi Menteri BUMN, setelah acara pelantikan selesai, DI mengajak wakil menterinya untuk semobil sambil berdiskusi. menariknya DI tidak menggunakan supir pribadi, melainkan memilih untuk menyupir sendiri sehingga diskusi dengan Wakil Menterinya menjadi lebih enak dan santai. DI juga pernah mengatakan bahwa yang menjadi Menteri adalah Wakil Menterinya, sedangkan Menteri jadi CEO nya, supaya bisa mengurusi teknis di lapangan.

Dalam suatu kesempatan wawancara di Metro TV, DI juga mengatakan bahwa “Saya bukan BOS, tapi saya adalah pelayan rakyat jadi rakyat harus menikmati apa yang saya berikan (kerjakan).”

jadi sudah selayaknya para pimpinan perusahaan/organisasi publik juga memikirkan bahwa mereka adalah pelayan dan bukan BOS.

*  Pola Manajemen Top Down

DI juga mengatakan bahwa, dalam manajemen modern, kita tidak bisa lagi menerapkan pola manajemen seperti teori Air (Mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah) tapi kita harus juga memperhatikan mereka yang berada di level bawah. artinya manajemen pengetahuan harus diimplemntasikan disini. sebuah organisasi/perusahaan juga harus memberikan kesempatan ke pegawai di level untuk berpendapat. jadi pendapat tidak lagi hanya datang dari direksi/para pejabat organisasi.

* ABS (asal Bapak Senang)

Sesaat setelah dilantik menjadi menteri BUMN, DI menjelaskan beberapa program yang akan dilaksanakannya untuk memajukan Kementrian yang dipimpinnya salah satunya adalah mengurangi kerja berbasis laporan dan surat meynurat. ini adalah cara-cara yang masih dilakukan oleh kebanyakan perusahaan/organisasi pemerintah. mekanisme inilah yang sering disebut dengan Asal Bapak Senang. artinya, laporan yang ditulis selalu bagus-bagus, meskipun hasilnya amburadul..

* Intervensi Politik

Hal ini yang menjadi catatan penting DI untuk ikut memajukan perusahaan-perusahaan dibawah bendera BUMN, karena selama ini perusahaan pemerintah maupun insitusi pemerintah masih digunakan untuk tunggangan politik oknum-oknum tertentu. oleh karena itu, jauhilah intervensi politik jika ingin organisasi/perusahaan yang kita pimpin menjadi lebih baik. dalam statemennya di beberapa media, DI juga tidak segan-segan akan memecat para direksi yang sengaja mengundang unsur politik dalam organisasinya atau direksi yang terlibat dipolitik.

* Kurang berorientasi Layanan

Sebelumnya kita tahu sendiri bagaimana mahalnya untuk bisa menerangkan rumah kita, atau lamanya pengurusan supaya rumah kita tersambung listrik, belum lagi kita harus saingan dan beradu cepat dengan para calo atau pelanggan lainnya yang berani membayar lebih besar supaya bisa mendapatkan listrik lebih dulu. Cara-cara inilah yang diubah oleh DI dengan program GRASS-nya. sebelum DI menjadi Dirut PLN, kita tidak pernah mendengar prgoram GRASS (Gerakan Satu Juta Sambungan). program ini diluncurkan dengan maksud untuk memberikan pelayanan yang lebih baik  kepada Pelanggan.memasang instalsi listrik yang murah dan cepat.

baru-baru ini dalam kunjungannya ke PT Angkasa Pura yang mengelola salah satu bandara di Indonesia, DI mengatakan bahwa Angkasa Pura harus mengutamakan penumpang ketimbang direkturnya. maksudnya adalah Ruang tunggu penumpang harus lebih bagus dari pada ruang kerja direksi Angkasa Pura. nah yang terjadi selama ini adalah ruang kerja pejabat kita lebih bagus berlipat-lipat ketimabang ruang pelayanan. kemudian beliau juga membandingkan dengan kantor direksi PT jaya Ancol yang tempatnya justru dipojok dan tidak layak dijual🙂.

untuk sementara, itu yang bisa saya simpulkan jika ada masukan lain akan lebih bagus supaya tulisan ini akan menjadi lebih panjang..:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s