Saya dan Tim Basket Satya Wacana

Tulisan ini merupakan cerita pengalaman saya semenjak mengurusi bola basket di universitas kristen satya wacana salatiga. Sekitar  tahun 2002 saya diajak oleh salah seorang anggota senat mahasiswa universitas yang membawahi kegiatan olahraga di UKSW, yang kebetulan dia juga adalah senior saya di fakultas. Saat itu Tim bola basket UKSW akan mengikuti kompetisi bola basket antar perguruan tinggi se-Jateng –DIY yang diselenggarakan oleh Universitas Jendral Soedirman Purwokerto . tanpa basa-basi saya langsung mengiyakan ajakan senior saya itu. Tujuan awal saya sebenarnya hanyalah untuk jalan-jalan alias pengen tau dimana itu purwokerto J. Hari keberangkatan pun tiba, saya bersama rombongan tim bola basket UKSW pun siap menuju Purwokerto tanpa ada acara ceremony pelepasan dari Wakil Rektor III UKSW.  Setelah tiba di sana, kami menginap di salah satu penginapan kelas melati, penginapan yang biasanya digunakan oleh supir-supir truk lintas propinsi untuk mengistirahatkan badannya. Kami pun mulai berbagi kamar, ada yang sekamar berdua ada yang bertiga. Tim yang berangkat adalah tim putra dan tim putri UKSW. Saya ditempatkan sekamar dengan Pelatih Kepala dan juga Manajer tim saat itu. Pelatih kepala kami adalah Natanael Sapin yang biasa disapa Mas Natan, beliau adalah orang Salatiga namun masih memiliki garis keturunan suku Sumba Nusa Tenggara Timur dari kakeknya. Sedangkan Manajer kami saat itu adalah Dwi Agus Fitriyanto (Goci) yang juga telah lebih dulu berkecimpung di bola basket. Manajer kami orang Salatiga asli, karir dia di bola basket adalah berawal dari wasit dengan license C dari Perbasi Kota Salatiga. Mulai dari situlah kami mengenal satu dan yang lainnya. SIngkat cerita setelah saya Tanya-tanya ternyata Mas Natan adalah salah satu Pelatih hebat di Jawa Tengah, beliau pernah membawa Tim Pelajar Jawa Tengah menjadi  juara pada Kompetisi tingkat pelajar nasional. Sedangkan prestasi beliau saat menjadi pemain juga tidak kalah bagusnya. Beliau pernah bermain untuk salah satu tim basket terbaik pada era 90’an yaitu klub bernama Pelita Bakrie (sekarang Pelita Jaya) namun karena cedera yang tak kunjung sembuh pada saat menjadi pemain basket, mas natan memutuskan untuk mundur menjadi pemain dan ingin berkarir menjadi pelatih. Beliau baru setahun melatih Tim UKSW, dan saat itu adalah tahun pertamanya mas natan melatih Tim Bola Basket UKSW. Dengan honor yang tidak seberapa, mas natan  tetap ingin melatih di tim kami. Selain melatih di kampus, mas natan juga membuka klub sendiri dengan nama Rajawali Salatiga. Saya yang saat itu baru pertama mengurusi tim olahraga merasa terkagum-kagum dengan beliau.  Saat itu saya berpikir, saya bertemu dengan orang yang tepat untuk belajar.

Singkat cerita, pada kompetisi yang kami ikuti di Universitas Jendral Soedirman tersebut  tidak dapat memberikan prestasi yang bagus kepada kampus kami. Namun tim putri kami bisa menjadi juara di kompetisi tersebut dengan mengalahkan Tim Universitas Janabadra yang saat itu diperkuat beberapa pemain PON Jogjakarta. Sedangkan tim Putra harus pulang dengan tangan hampa, dan harus mengakui kehebatan tim-tim basket dari Jogjakarta dan juga kota solo. Namun satu prestasi di Tim putri kami sudah cukup membuktikan bahwa Mas Natan adalah salah seorang pelatih cerdas yang mampu memotivasi pemain dan memberikan strategi-strategi jitu pada saat pertandingan, karena kami pernah dikalahkan oleh Tim yang sama pada saat babak penyisihan. Kompetisi berakhir, dan kami pun harus pulang ke salatiga. Hanya satu tropy yang bisa kami bawa pulang saat itu. Tapi prestasi itu sebenarnya sudah cukup bagus untuk tim kampung seperti kami, karena sebenarnya kami tidak memiliki target, yang penting bisa berpartisipasi di kompetisi bola basket antar perguruan tinggi SeJateng-DIY. Hal itu baru saya ketahui setelah kita melakukan evaluasi di Salatiga J. Setelah itu tim diliburkan dan tidak ada latihan, tim kami hanya akan berlatih jika ada kompetisi. Maklum karena keterbatasann dana yang dimiliki oleh tim kami, jadi para pemain berlatih di klub masing-masing.

Setahun setelah itu tepatnya tahun 2003, ada undangan untuk mengikuti kompetisi antar universitas se Jateng-DIY di Universitas Muhamadiyah Solo, kali ini saya tidak ikut serta, karena saya tidak mengetehui informasi tersebut. Selain itu ada pergantian kepengurusan di Jajaran Senat Mahasiswa Universitas, sehingga saya sudah tidak punya “koneksi” lagi di lembaga mahasiswa tersebut J. Namun informasi yang saya dapat dari pemain yang ikut dalam kompetisi tersebut, prestasinya sama dengan kompetisi yang pernah diikuti di Purwokerto. Tim putri berhasil mempertahankan gelar sebagai tim terbaik di Jateng dan DIY, sedangkan tim Putra harus lebih banyak berlatih. Beberapa hari setelah itu, saya bertemu dengan Mas Natan dan beliau menanyakan mengapa saya tidak ikut dengan tim pada kompetisi yang digelar di solo itu, saya lalu mengutarakan alasan saya kepada mas natan dan beliau memahaminya. Dan pada saat itu beliau berjanji jika ada kompetisi lagi di tahun mendatang maka saya akan dihubungi, dan bila perlu beliau yang akan langsung minta ke senat bahwa saya akan diikutsertakan dalam tim. Karena kerjasama antara saya,pelatih dan pemain sudah terjalin dengan baik, sehingga kaim pun merasa seperti keluarga.

Di tahun 2005, UKSW mendapat undangan untuk mengiktui kualifikasi LIBAMA Jawa Tengah. Dan mas natan pun memenuhi janjinya untuk menghubungi saya supaya bisa bergabung dengan tim. Meskipun status saya saat itu hanya sebagai utility di tim, saya tetap enjoy dan karena saya masih dalam proses belajar. Tim mulai berlatih karena Kompetisi akan berlangsung, karena minimnya dana yang diberikan Universitas kepada Senat untuk memberangkatkan tim, maka diputuskan bahwa hanya tim putra yang akan ikut serta pada kompetisi LIBAMA 2005. Di kompetisi ini, kami melakukan regenerasi pemain, seleksi mulai dilakukan terhadap beberapa pemain muda untuk mengisi kekosongan pemain yang telah lulus. Meskipun diisi beberapa pemain muda, tim kami justru tambah kuat, karena pemain muda yang kami miliki memiliki prestasi yang cukup bagus sewaktu mereka masih SMA. Kompetisi berlangsung selama seminggu, kami pun berhasil menembus Final. Tidak seperti kompetisi-kompetisi sebelumnya kami selalu gagal di penyisihan.  Kami hanya berhasil menjadi Runner Up pada LIBAMA 2005 setelah dikalahkan oleh tim Universitas Dian Nuswantoro Semarang yang bertindak sebagai tuan rumah. Meskipun hanya menjadi runner up, tapi prestasi kami naik, dari tim yang selalu gagal tembus di penyisihan akhirnya bisa berlaga di Final. Kami pun pulang dengan bangga ke salatiga, dalam pikiran saya saat itu, inilah awal kebangkitan tim kami. Kami menyerahkan trophy ke Wakil Rektor III dan berharap bahwa kami bisa mendapatkan dana lebih supaya di kompetisi mendatang bisa mengikutsertakan tim putra dan tim putri.

Tahun 2006 kami kembali diundang untuk mengikuti kualifikasi LIBAMA daerah Jateng, juara dari kompetisi ini akan berlaga di pentas Nasional. Inilah yang memacu kami untuk terus berlatih. Tim dipersiapkan selama setahun, karena keterbatasan dana tim hanya bisa berlatih 2 x dalam seminggu, sisanya dititipkan di klub masing-masing pemain dengan tetap menggunakan program yang telah dirancang Mas Natan. Waktu berlalu dan waktu kompetisi semakin dekat. Oh ya, kali ini saya tidak lagi bertindak sebagai utilty, tapi sebagai Manajer tim. Jabatan ini diminta langsung oleh Mas Natan sebagai Pelatih Kepala kepada Senat Mahasiswa Universitas karena beliau beranggapan bahwa saya telah berpengalaman untuk mengurusi tim, dan memang kami telah kompak, baik putra maupun putri dengan para official .  Tidak membuthkan waktu lama Senat pun menyetujuinya, dan saya pun diangkat sebagai Manajer tim basket UKSW. Ada kebanggaan tersendiri buat saya, karena bisa menjadi manajer tim basket di salah satu kampus terbesar di Jawa Tengah. Singkat cerita kami pun bersiap untuk menghadapi LIBAMA 2006. Kali ini tuan rumahnya adalah Universitas Diponegoro. Tim yang kami persiapkan tidak ada perubahan dengan tim yang dibentuk tahun 2005. Semua pemain siap tempur karena telah berlatih bersama selama setahun. Kami pun berangkat menuju Semarang untuk mengikuti kompetisi. Karena kali ini saya bertindak sebagai manajer, maka tugas yang saya lakukan saat ini bisa dibilang cukup berat, mulai menyiapkan penginapan untuk tim, transport maupun makan pemain. Saya tidak bekerja sendirian, tapi dibantu oleh salah seorang teman seangkatan yang juga gemar basket untuk mengurusi tim. Kali ini dia menggantikan posisi saya di utility, meskipun dia pun hanya penggemar belom pernah menjadi pemain maka saya menganjurkan kepadanya untuk Learning by doing.

Sumber Foto : Aditya #8

Kompetisi LIBAMA 2006 berlangsung selama seminggu yang diikuti oleh beberapa universitas yang ada di Semarang, Salatiga, Purwokerto dan Solo. Kali ini kami menginap di salah satu penginapan milik gereja yang kebetulan memiliki hubungan kerja sama dengan UKSW. Kami mengikutsertakan  tim putra dan tim putri, karena saat itu prestasi kedua tim cukup menjanjikan untuk level Jawa Tengah. Pertandingan per pertandingan kami lewati, tim putri berhasil menjadi runner up grup dan berhasil masuk ke babak berikutnya. Sedangkan tim putra juga berhasil menjadi juara grup dan berhak maju ke pertandingan selanjutnya. Tim putri kami berhasil lolos ke semifinal, namun dikalahkan oleh di partai semifinal oleh Tim Universitas Negeri Sebelah Maret yang pada saat itu dihuni para pemain KOBANITA asal klub BHINEKA Solo, sehingga tim putri kami hanya bisa berhasil berlaga di perebutan juara III/IV. Dan pada partai perebutan tempat ke-tiga, tim putri berhasil merebut juara III pada LIBAMA 2006, namun tidak bisa berlaga di kompetisi Nasional. Sedangkan tim putra berhasil lolos ke Final. Di partai Final kami mampu bersaing dengan tim Tim Universitas Diponegoro yang saat itu sebagai tuan rumah. Dan akhirnya tim putra berhasil meraih gelar juara LIBAMA 2006. Itu adalah untuk pertama kalinya tim putra UKSW meraih gelar juara I semenjak saya bergabung bersama tim basket. Kami pun bisa membawa pulang dua  tropy ke kampus. Juara I untuk tim putra dan Juara III untuk tim putri. Itu adalah prestasi pertama saat saya menjadi Manajer Tim.  Dari situ saya mulai belajar, bagaimana mengurusi tim dengan baik. Meskipun kami penuh dengan keterbatasan tapi mampu memberikan prestasi yang baik bagi kampus.

Pada tahun 2007, terjadi perombakan besar-besaran terhadap tim basket UKSW. Karena disaat itu ada program beasiswa prestasi bola basket oleh salah satu fakultas terbesar di UKSW, sehingga adanya proses perekrutan pemain dengan prestasi terbaik di daerah-daerah. Pada tahun 2007, pemain yang berhasil memberikan gelar juara LIBAMA 2006 hampir semua tidak dipanggil, hanya ada beberapa pemain yang masih dibutuhkan oleh tim, karena tim yang baru memiliki pemain dengan kemampuan yang lebih baik dari tim sebelumnya. Pada masa transisi ini, saya masih terlibat dalam tim basket UKSW. Namun kali ini saya tidak lagi menjabat sebagai manajer, tetapi sebagai assisten manajer tim. Karena jabatan manajer tim diisi oleh salah satu pejabat fakultas kami. Namun hal tersebut tidak menurunkan niat saya untuk tetap mengurusi bola basket di kampus. Karena jabatan tidak penting, tapi bagaimana saya bisa belajar lebih baik dan lebih professional.

Tim Libama 2007-2008-2009 (Sumber : Pusdiklat FTI-UKSW)

Di tahun yang sama, kepengurusan tim menjadi lebih professional. Mas Natan sudah tidak lagi sebagai pelatih Kepala namun diganti oleh Coach Danny Kosasih yang adalah mantan Pelatih Tim Indonesia di Sea Games 1997 dan mantan pelatih Panasia Bandung era Kobatama 90’an. Di jajaran pelatih bahkan ada dua orang pelatih selain Pelatih Kepala, yaitu Daniel Saputro sebagai pelatih teknik, dan Efry Meldy  sebagai pelatih Fisik. Tim ini dibentuk dengan perencanaan yang matang sehingga segala sesuatunya terlihat sangat professional.  Semua telah diatur dan direncakan dengan baik. Program latihan pun dibuat dalam setahun. Tim ini disebut dengan Pusdiklat Bola Basket (PUSDIKLAT FTI). Para pemain yang bergabung di tim ini punya  prestasi masing-masing. Tapi rata-rata adalah mantan pemain PON didaerah masing-masing. Kompetisi pertama yang diikuti oleh tim PUSDIKLAT ini adalah Kejurnas Mahasiswa BAPOMI di GOR Kertajaya Surabaya. Kami pun berhasil meraih hasil bagus yaitu sebaik Runner Up setelah dikalahkan UBAYA di parta Final.

Kejurnas Mahasiswa Vs UBAYA (Sumber : Ano #13)

Tahun 2008, UKSW mengajukan diri kepada Perbasi Jawa Tengah sebagai tuan rumah LIBAMA Jawa Tengah, dan saya terpilih sebagai ketua panitianya. Pada kompetisi ini saya tidak terlibat di didalam tim, karena lebih sibuk mengurusi organisasi kepanitiaan LIBAMA 2008. Karena kami bertindak sebagai tuan rumah, saya harus menyiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin, karena saya tidak ingin membuat malu institusi dalam hal ini adalah kampus saya. Proses latihan tim tidak begitu banyak saya ketahui, karena saya telah mendelegasikan kepada rekan Yohanes Elly yang pernah bersama-sama saya mengurusi tim basket sebelumnya. Elly termasuk salah satu official yang bertanggungjawab meskipun masih dalam proses belajar. Namun karir elly di manajemen tim bola basket lebih bagus ketimbang saya, karena elly diperhadapkan langsung dengan manajemen tim yang benar-benar professional. Sehingga proses belajarnya akan menjadi lebih cepat.  LIBAMA 2008 dimenangkan oleh Tim putra UKSW, sedangkan tim putri belum bisa berbuat banyak, karena banyak pemain baru di tim ini. Pada tahun yang sama, kami mewakili Jawa Tengah di Kejurnas Divisi Satu LIBAMA. Kejurnas yang dilangsukan di GOR Padjajaran Bogor ini diikuti oleh sejumlah universitas di seluruh Indonesia. Pada kompetisi ini, kami harus pulang lebih dulu, karena kalah dibabak penyisihan oleh Universitas Padjajaran Bandung yang lebih berpengalaman di kompetisi ini. Tapi kekalahan di bogor memberikan pelajaran bagi kami, sehingga tim putra UKSW harus berlatih lebih baik lagi.

Di tahun 2009, tim UKSW mengikuti kualifikasi LIBAMA JATENG 2009 di Solo, kali ini tuan rumahnya adalah Universitas Muhamadyah Surakarta. Di tahun 2009, tim pusdiklat mulai meregerasi pemainnya. Beberapa pemain muda diturunkan pada kompetisi ini untuk meningkatkan jam terbang mereka. Di LIBAMA 2009, saya masih bergabung dalam tim sebagai manajer Tim Putri, karena tim telah dikelola secara professional maka kami memutuskan untuk membagi tugas dan tanggung jawab. Sehingga saya mengurus tim putrid UKSW. Tim Putri masuk grup berat, karena berada satu grup dengan Juara Bertahan Udinus Semarang dan Runner Up Unnes Semarang. Dan hasilnya sudah bisa ditebak sejak awal, tim putri UKSW gagal di babak penyisihan. Sedangkan Tim putra yang merupakan juara bertahan berhasil mempertahankan gelarnya setelah di final mengalahakan Tim Universitas Soegijapranoto Semarang.

Di tahun yang sama, tim basket Pusdiklat FTI mengikuti kompetisi bola basket yang disponsori oleh salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Kompetisi ini tidak membawa nama Universitas melainkan Nama fakultas yaitu Fakultas Teknologi Informasi. Kebetulan pemain tim berada di fakultas yang sama maka Pusdiklat ini yang akan bertanding dalam kompetisi tersebut. Tim FTI masuk ke regional Solo, karena di Jawa Tengah di bagi dalam dua wilayah yaitu wilayah semarang dan Solo. Di wilayah Solo, kami berhasil menjadi juara dan berhak mewakili solo di kompetisi level nasional. Kompetisi nasional diikuti oleh juara-juara dari seluruh wilayah dimulai dari Sumatra utara sampai dengan wilayah Bali. Dan tim kami pun berhasil meraih gelar Juara Nasional untuk kompetisi ini.

Di tahun 2010, tim ini memutar haluan untuk tidak lagi mengikuti kompetisi level mahasiswa, tetapi akan mengikuti kompetisi Profesional NBL Indonesia. Meskipun masih minim pengalaman di liga professional, tapi tim asuhan coach danny kosasih ini dapat bermain dengan baik. Bahkan salah satu pemain binaan dari tim ini mendapatkan award Rookie of the year si musim pertama NBL . NBL telah memasuki season kedua di tahun 2011, tim satya wacana siap menunjukan tajinya kepada seluruh penggemar basket di Indonesia. Meskipun minim pengalaman, tapi memiliki tim pelatih yang berpengalaman yang mampu memotivasi pemain-pemain muda untuk menunjukan kelasnya bisa bermain dengan pemain-pemain berpengalaman di liga professional. ditahun inilah terakhir saya bergabung dengan  tim basket Satya Wacana, saya harus mundur untuk menyelesaikan studi yang tak kunjung lulus J. Meskipun hanya merasakan suasana liga professional di laga pra musim NBL bersama Tim Satya Wacana pada musim 2010, tapi banyak pelajaran yang bisa saya dapatkan.

Saat ini Mas natan telah mundur dan tidak lagi mengurusi Basket, klub basket Rajawali yang pernah dibukanya diserahkan kepada pemain-pemainnya untuk bisa mandiri. Mas Natan lebih memilih mengurus bisnis Mie Pangsitnya “Andalan Kita“ yang makin hari makin maju bahkan sudah menambah dua lapak di salatiga. Beliau berniat akan mengfranchisekan bisnis tersebut.  Sedangkan Goci masih terus mengurusi basket, goci sekarang melatih di SMA Satya Wacana Salatiga. Tim yang dilatihnya pun cukup diperhitungkan di Level DBL Jawa Tengah, karena sudah dua kali berhasil lolos Final DBL Region Semarang, bahkan sekolah ini mampu menyumbangkan pemain untuk DBL All Star dua tahun berturut-turut dan juga untuk tim Pra PON Jawa Tengah. Daniel Saputro pun sudah tidak melatih di tim satya wacana, setelah menyelesaikan studi S2 nya di FTI UKSW. Dia lebih memilih berkarir di semarang agar lebih dekat dengan keluarganya.   Yang tersisa di Tim Satya Wacana masiih banyak. Yoahnes Elly, salah seorang teman yang pernah sama-sama mengurusi tim  Basket UKSW, saat ini tidak lagi mengurusi tim UKSW tetapi tugas itu diberikan kepada rekan kami yang lebih muda agar ada proses regenerasi di manajemen tim, sedangkan Yohanes Elly sibuk mengurusi Tim Satya Wacana yang berlaga di NBL. Coach danny kosasih dan Efry Meldi sang pelatih Fisik masih menjadi pelatih, sambil juga mengurusi Tim PON Jawa Tengah dan Timnas –U16 untuk kejuaraan FIBA di Vietnam, dan berhasil membawa Indonesia memperoleh peringkat ke-tujuh pada kompetisi Junior Tingkat Asia tersebut.

Hmmmmmmm. Panjang juga ceritanya, tapi ini bagian dari cerita saya selama mengurusi tim bola basket kampus mulai tahun 2002-2010. Banyak suka maupun duka dalam mengurusi tim basket UKSW. Berawal dari utility dan berakhir menjadi assisten manajer. Berawal dari mengurusi tim yang hanya latihan menjelang kompetisi sampai dengan mengurusi tim yang berlatih setiap hari dan dikelola secara professional. Berawal dari mengikuti kompetisi level mahasiswa dan berakhir di Liga Profesional. Mulai berkenalan dengan pelatih cerdas meskipun cuma kelas kampung hingga tidur sekamar dan berteman baik dengan pelatih yang lebih cerdas dan juga berkelas internasional. Namun ada hal yang bisa dipelajari dari kedua pelatih ini, meskipun saya masih sangat muda, bahkan usianya terpaut cukup jauh tapi mereka mau menghormati orang yang jauh lebih muda. Sungguh para pelatih yang professional. Selamat buat satya wacana, yang sedang bersiap mengikuti LIBAMA dan NBL Indonesia Seasson 2011. Semoga semakin banyak pemain muda berbakat tercipta dari kampus hijau ini.

Tulisan ini didedikasikan kepada semua pemain,pelatih, official maupun maseur yang pernah dan sedang tergabung tim bola basket Universitas Kristen Satya Wacana.