Koin dan Prita

Saya rasa, saya tidak akan memulai tulisan ini dengan kata – kata klise ” Sudah lama…..” Anda dan saya sama – sama tahu sudah lama sekali. Seperti kereta yang terus melaju pada relnya, dalam kurun itu banyak sekali peristiwa yang kita lalui, Anda dan saya.  Banyak pula tokoh – tokoh yang bersinggungan dengan kita, para penyayang, pemurah hati, penghianat, gila kuasa, mabuk penghormatan, oportunis dan banyak lagi. Semuanya memberikan kesan yang berbeda – beda dan sedikit banyak mempengaruhi pribadi kita dalam mencitrakan hidup.

Baiklah, begini, masih ingat dengan jelas dikepala kita bagaimana kasus prita dengan Rumah Sakit Omni Tanggerang? Kasus tersebut masih disidangkan oleh Pengadilan Tinggi Banten. keputusan Pengadilan beberapa hari lalu adalah Prita dinyatakan bersalah dan wajib membayar Denda sebesar Kurang lebih 204 juta Rupiah. ini bukan angka yang kecil bagi seorang Prita yang hanya sebagai pegawai kantoran biasa. bandingkan saja dengan kasus anggodo wijaya, andaikan anggodo wijaya diberikan denda dengan jumlah yang sama pada kasusnya. sudah pasti dalam jangka waktu beberapa jama bahkan menit pasti anggodo akan melunasi denda tersebut. Jadi saya akan melongkap tanpa menjelaskan siapa dia dan apa yang dihadapinya. Intinya, setelah Pengadilan Tinggi Banten memutus banding kasus perdatanya, Prita Mulyasari wajib menjalankan vonis untuk membayar kerugian yang dialami RS. Omni Internasional, karena “tercemar nama baiknya” sebanyak 204 juta rupiah. Kenyataan ini, pahit buat Prita dan mungkin membuat geram sebagian (besar) dari kita. Ini setidaknya saya ukur dari komunitas dunia maya. Lalu mengelindinglah prakarsa ini: “Kumpulkan koin untuk “menebus” keadilan buat Prita senilai 204 juta rupiah (ada yang mengestimasi beratnya hingga 2,5 ton).” Wacana ini diamini banyak pihak. Senin adalah hari besar untuk “pemberontakan indah” ini. Koin – koin dari penjuru Indonesia dikumpulkan. The Revolt Is On Baby! Manifestasinya sangat elegan, sekaligus menyakitkan, jika pihak yang disasar sensitif. Sebuah fenomena yang mencengangkan. Prita menjadi personifikasi keraguan, kegalauan, kegeraman batin para pendukungnya, atas sebuah  sistem yang dianggap belum becus menimbang hitam – putih.

Kamis malam (2 Desember 2009), saya sempat memwawancarai Prita. Saya bertanya, jika seandainya ada pihak – pihak yang membantu, dan ternyata nilai yang dibutuhkan terkumpul, apakah dia akan menghentikan upayanya mengajukan kasasi atas putusan majelis hakim tinggi? Prita mengatakan dirinya akan tetap maju, demi nama baik dan keyakinannya, bahwa dialah yang menjadi korban. Jadi  kalaupun 204 juta dalam bentuk koin seberat 2,5 ton terkumpul, belum ada jaminan uang itu akan dimanfaatkan Prita, untuk menuntaskan prahara hukum yang membelitnya. Sebab jika kasasi diajukan, maka 2,5 ton koin itu akan teronggok begitu saja.

Lepas dari akan dimanfaatkan atau tidakkah “koin – koin perlawanan” itu, namun aksi yang ada dibaliknya tetap luar biasa. “Mencari keadilan di Indonesia mahal harganya” kutipan yang sesungguhnya tidak mengejutkan, namun karena keluar dari  seorang Prita menjadi sangat berkesan buat saya. Dan koin – koin yang akan dikumpulkan itu, sesungguhnya bentuk kegelisahan kita akan rasa keadilan, bukan hanya dalam ranah hukum, tetapi juga ekonomi, pendidikan dan sendi – sendi kehidupan yang lain. Saya hanya membayangkan, seandainya semangat reaksioner para pendukung Prita tidak bersandar pada faktor momentum saat ini saja, tetapi konsisten dan semangat tersebut terus mengalir dalam nafas kesadaran, maka banyak orang – orang yang sama “termarjinakannya,” “takberuntungnya,” “terabaikannya” dengan Prita akan menemukan kekuatan dalam badai apapun yang mereka alami. Anda pasti sejalan dengan saya, jika saya katakan masih banyak lagi anak – anak bangsa yang mungkin sama atau lebih menderita ketimbang Prita, kan?Yang karena tak mengerti internet, tak dapat menulis email dan tidak memiliki komunitas dalam jejaring sosial dunia cyber tak kita baca, dengar dan tahu penderitaannya. Maka jika saja koin – koin itu adalah koin keadilan, mereka pun berhaknya memperolehnya, sama dengan Prita.

Pancasila, Sila V : “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”

Alfito Deannova : TVOne

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s